Friday, December 23, 2016

Ironis Setelah Jadi Viral, Klakson Telolet Dirazia

Dalam beberapa minggu terakhir ini, seluruh dunia tampaknya tengah terjangkit demam 'Om Telolet Om'. Tulisan Om Telolet Om dengan tambahan tagar (hastag) #telolet membanjiri timeline (linimasa) akun media sosial terutama dua medsos terbesar Facebook dan Twitter. Berawal dari Indonesia kemudian viral menyebar ke seluruh dunia.

Postingan tidak hanya celotehan, namun ada juga dengan video bagaimana mereka membentangkan poster meminta sopir bus untuk membunyikan klakson telolet. Demam telolet semakin menggila saat beberapa DJ di dunia memasukkan teriakan 'Om Telolet Om' dan bunyi klakson telolet dalam aransemen musik mereka.

Sedangkan beberapa DJ lain justru penasaran menanyakan, apa sih Om Telolet Om? Alhasil, tanda pagar #telolet menjadi trending topic urutan pertama di wilayah Indonesia pada Rabu (21/12/2016) pagi. Postingan masif itu kemudian semakin viral setelah akun twitter klub-klub Eropa yang punya banyak penggemar di Indonesia juga membuat postingan 'Om Telolet Om' dengan berbagai gaya.

Sejumlah klub seperti Real Madrid, Manchester City, Totenham Hostpur, Bayer Munchen dan beberapa klub lainnya. Bahkan bintang Madrid Cristiano Ronaldo mengunggah foto dengan caption Om Telolet Om. Tak hanya dari dunia sepak bola, bahkan Presiden AS Barrack Obama pun turut berkomentar soal Om Telolet Om.




Ironis Telolet Dilarang
Setelah jadi viral dan merubah stigma klakson yang sejak dahulu identik sesuatu yang menyebalkan, membuat stres di jalan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ya, lagi-lagi bukan pemerintah Indonesia kalau tidak mengganggu kesenangan warganya.

Pemerintah melalui aparat terkait di lapangan, awalnya melarang sopir bus membunyikan klakson telolet. Dianggap tidak efektif, pemerintah menerjunkan aparat Kepolisian dan Dishub di daerah-daerah untuk merazia bus dengan klakson telolet. 

Pemilik bus diminta mencopot klakson telolet dan mengganti dengan klakson standar pabrikan yang membosankan itu. Serangan netizen di twitland semakin gencar dan menilai tindakan pemerintah itu berlebihan. Seharusnya, bukan dilarang diberangus tetapi diatur.

Belakangan Menhub bakal menggelar konser klakson telolet. Namun hal itu tidak menjamin keberlangsungan dan kelestarian klakson telolet. Pasalnya, razia di terminal-terminal dan di jalanan masih saja terjadi. Banyak klakson telolet yang dicopot dan diganti klakson biasa. Ironis dan ndeso banget kan?




Kreativitas Perakit Klakson
Nah, ini problem akut yang dialami bangsa ini. Tidak bisa melihat warganya kreatif. Setelah melihat tayangan di tv swasta dan beberapa di youtube, ternyata sangat sulit merakit klakson yang bisa telolet dan menyanyikan nada-nada yang indah seperti itu. Harganya juga cukup mahal mulai Rp500 ribu hingga Rp2 juta.

Membutuhkan keahlian khusus dan ini sudah menjadi mata pencaharian banyak orang. Pemerintah sama saja dengan mematikan usaha mereka, jika melarang klakson telolet ini. Namun, bukan Indonesia namanya kalau tidak melarang, ada perakit TV dari monitor bekas dilarang juga kan dulu?

Tinggal seberapa kuat tekanan masyarakat untuk menyelamatkan periuk nasi abang-abang perakit klakson telolet. Sebab jika dilarang total, tentu saja mereka harus siap-siap untuk mencari peluang usaha lain. Kasihan juga ya...semoga Allah SWT yang maha kaya bisa mencukupkan kebutuhan mereka dan memberikan mereka peluang usaha lain...aamiin.

0 comments:

Post a Comment

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.