Monday, December 26, 2016

Media Online Menjamur dan Berguguran

Akhir-akhir ini, media online semakin banyak bermunculan. Kontennya bermacam-macam, mulai berita ringan, guyonan, berita politik bahkan sampai berita hoax. Kondisi ini mengingatkan kita pada awal era reformasi, antara tahun 1998-2000. Bedanya, saat itu yang muncul media cetak. Isinya, mayoritas berita vulgar yang mengeksploitasi seksualitas.

Nah, apakah media online bisa bersaing di era sekarang ini? Media online memang sukses membunuh koran. Hanya radio dan televisi yang selamat dari gempuran media online karena ada faktor entertainment atau hiburan di dalam sajiannya. 


Namun, keberhasilan media online merontokkan koran ini bukan berarti setiap media online dengan mudah berjaya dan meraup keuntungan besar. Pasalnya, terbukti banyak media online yang hanya numpang lewat lalu berguguran. Apa sebab? Media online itu terbunuh dengan sendirinya karena tidak bisa menarik pengiklan atau investor.





Banyak penggagas media online hanya berangkat dari euforia idealisme atau hanya tergoda dengan biaya murah pendirian media online tanpa memikirkan keberlangsungan medianya. Media online tidak bisa berdiri sendiri. Salah satu hal yang paling aman dilakukan yakni menggabungkan media online dengan platform lain seperti televisi, radio atau bahkan koran.


Media online juga harus ditopang dengan kekuatan media sosial (medsos). Bisa dilihat dari orang-orang di dalamnya, jika akun twitter mereka followernya seicrit, akun facebooknya sepi, dll maka dipastikan model-model orang seperti ini tidak cocok mengelola media online.


Salah satu kelemahan media online yakni tidak bisa hadir di seluruh lapisan masyarakat. Sudah jamak kita ketahui, bahwa beberapa daerah di Indonesia belum terjangkau jaringan internet. Sehingga bisa dipastikan mereka tidak bisa mengakses media online. 


Sehingga, inisiator media online harus punya basis survei yang kuat mengenai pangsa pasar pembacanya. Jika memungkinkan, untuk kawasan pinggiran, harus dibuat dua atau lebih platform media yang berbeda di bawah satu naungan. 


Selain itu, media online tidak kolektibel, umumnya di kalangan pemerintah, mereka membayar sejumlah uang advertorial dengan imbalan kliping berita. Sedangkan media online agak 'wagu' kalau mau dikliping. Nah, intinya media online ini bisa hidup di peradaban ramai dan sulit berkembang di kawasan pinggiran. 


0 comments:

Post a Comment

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.