Tuesday, January 16, 2018

Tiga Tipe Penjual Idiot di Era Bisnis Online

Saat ini, kita memasuki e-commerce yang sesungguhnya. Jika di era 2000-an, orang-orang baru sekedar wacana. Pmbelian barang secara online baru diakses orang-orang tertentu dan rata-rata dari situs market place luar negeri.

Kala itu, para pembeli rata-rata orang berduit dan melek teknologi, sama pencuri kartu kredit atau pelaku carding. Nah, saat ini banyak orang-orang yang full time berbisnis online. Tidak tanggung-tanggung, omzetnya pun ratusan juta dengan keuntungan bersih antara Rp10-50 juta sebulan.

Mayoritas penjual online adalah seorang dropshiper. Apa itu? Dropship adalah sebuah metode jual beli online di mana penjual tidak melakukan stok barang ataupun proses pengiriman. Dalam sistem ini, akan sangat dibutuhkan seorang supplier sebagai pemasok barang.



Uniknya, para dropshiper ini bisa saling mengisi. Mereka biasanya nongkrong di tiga market place besar Tokopedia, Bukalapak dan Shopee. Nah, saling mengisi ini contohnya si A dagang baju gamis wanita, si B dagang jilbab. Lalu, si A copy gambar si B (sekarang bisa massal dengan software imacros dll di-scrap namanya). 

Jadilah, si A suplayer bagi si B untuk baju gamis, dan si B jadi suplayer si A untuk jilbab. Lalu, sistem pun berjalan dan saling menguntungkan. Lalu, seperti apa tipe pedagang idiot di era seperti ini.

1. Pedagang yang memasak water mark (tanda air) di foto dagangan.

Ini merupakan kebodohan pertama yang sangat fatal. Pasalnya, dengan memasang water mark tulisan tokonya di foto barang dagangannya, pedagang tipe ini telah membuang kesempatan barangnya untuk lebih cepat laku.

Sebab, ia bakal mempunyai ratusan sales gratisan ya para dropshiper itu. Jika ada water mark tentu sistem ini tidak bisa berjalan. Pedagang seperti ini menutup jalan rezekinya sendiri,

2. Pedagang yang tidak bisa jaga komitmen

Dalam sistem dropship harus ada komitmen dari suplayer agar menuliskan nama dan no HP dropshiper pada saat pengiriman barang. Bahkan, di semua market place sudah ada form untuk diisi bagi dropshiper,

Namun, ada beberapa pedagang yang mencoba curang. Dengan alasan lupa, mereka menulis nama toko dan no HP-nya sendiri dengan harapan pada order kedua nanti langsung ke dia. Toh harga dia lebih murah daripada dropshiper.

Namun apa lacur? ternyata hampir semua dropshiper yang pernah mengalami ini, pembelinya justru simpati pada si dropshiper dan menganggap si suplayer sebagai monster jahat yang harus menjadi musuh bersama. Akhirnya sistem drophsip tetap berjalan.

3. Penjual yang marah saat foto barang dagangannya dijual di lapak dropshiper

Ini kadar idiot yang paling rendah. Namun perlu dikritisi karena kadang menghabiskan energi saat melayani celotehan mereka. Padahal, logika bodoh saja, jika toh barang itu diorder di lapak dropshiper ujung-ujungnya juga belinya di pedagang awal tadi sebagai suplayer.

Jadi mendingan kalau ada idiot tipe tiga ini, tidak usah dilayani. Jadikan saja barangnya sebagai pemancing buyer datang. Seperti lilin lebah untuk mengundang lebah. 

Contohnya begini, ada baju gamis yang bagus pasang di lapak, setiap orang order bilang habis tawari gamis yang lain. Jadi dagangan si cerewet ini ga laku-laku karena ga kita ambil dan kita ambil di suplayer lain. 

Ada juga laptop spek tinggi misal core i7, RAM 16GB, VGA dobel intel HD sama Nvidia. Nah pasang di lapak, setiap ada orang tanya bilang habis tawari laptop lain yang sejenis atau sesuai budget buyer atau suruh lihat-lihat laptop lain di lapak kita.

Kalau dia si penjual asli yang cerewet tanya, kan itu cuma cacing umpan buat mancing idiot! Kamu rugi apa?!

Wednesday, December 20, 2017

Ustadz Abdul Somad, Tipikal Kyai NU yang Dirindukan Warga Nahdliyin


Saat saya berjalan di perkampungan sepanjang pantura mulai Kudus hingga Rembang. Bertamu ke warga Nahdliyin yang sesungguhnya, bukan para elitenya. Ternyata, mereka juga resah dengan 'citra' NU akhir-akhir ini.

Dulu senior saya pernah bilang, kalau Muhammadiyah bisa bubar, kalau NU tidak, NU seperti suku. Namun faktanya, dengan pola yang dibangun elite NU akhir-akhir ini, NU benar-benar rontok di tingkat bawah, di desa-desa, di level petani, buruh, wong cilik, mereka tidak paham, kok sampai dadi kayak ngene NU saiki? 

Bahkan, toleransi yang diusung NU saat ini cenderung kebablasan dan mengarah ke liberal. Pada masa dipimpin alm Gus Dur sekali pun tidak seperti ini kata mereka. Nah, saya hanya bisa menenangkan mereka, dengan balik bertanya, NU-nya siapa? atau NU ala siapa dulu?




Loh, memang beda-beda to Mas? Saya jawab ya sekarang ada NU-nya Gus Sholah, NU-nya Cak Nun dan yang terbaru NU-nya Ustadz Abdul Somad (UAS). Bukan hanya saya, warga NU pedesaan ini pun sepakat bahwa sosok UAS inilah tipikal Kyai NU yang dirindukan masyarakat pinggiran.

Orang NU yang bisa diterima di semua kalangan, bisa satu panel dengan penceramah aliran apa saja, meski banyak dibenci oleh orang yang tidak suka dengan aktivitas dakwahnya. Jamaah di alam nyata saja ribuan yang hadir di setiap ceramah-ceramahnya. Belum lagi yang setia menonton lewat Youtube.

Kaum pembencinya seolah benar-benar kehabisan akal. Youtube yang dulu dikuasai kaum salafy, akhirnya pindah ke UAS. Ini juga menimbulkan reaksi, fitnah macam-macam, jadi tantangan dua, dari kalangan kaum muslimin sendiri, kaum munafik dan kaum non muslim. Namun, tetap saja, dukungan justru terus mengalir, bahkan Malaysia dan Brunai silih berganti meminta UAS hadir memberikan tausiyahnya.

Mau mereka bilang UAS NU palsu, itu terserah, tapi faktanya memang dia lahir dari keluarga NU belajar di lingkungan NU, dapat beasiswa seperti umumnya anak-anak NU ke Cairo, Mesir. Tapi, UAS pulang otaknya tetap lurus, tidak mau dibelok-belokkan paham liberal nggak genah. NU aneh-aneh macam ini kan hidupnya di kampus-kampus IAIN awalnya.

Ya, awalnya berpendapat nyeleneh cuma pengen dapat perhatian cewek, itu awalnya. Lalu, disambut dapat beasiswa dari golongan liberal, tambah ndadi, yang kasus-kasus kekinian kan semacam itu. Jadi, kalau mereka bilang sudah melewati maqom2 tertentu, halaaah maqom opo, wong urung dadi ulama wae wis membingungkan warga. 

Saturday, December 9, 2017

Apa Kelebihan HT Icom V8 Hingga Jadi Legenda?

HT Icom V8
Berbicara soal Handy Talky (HT), bagi saya urutan merk yang paling saya nilai bagus secara rangking pertama Icom, kedua Kenwood, ketiga Alinco, keempat Yaesu, baru terakhir kelima Motorola. Pertimbangannya panjang, namun yang jelas bukan harga, tapi performa produknya.

Nah, kali ini, saya secara spesifik ingin mengulas soal HT Icom V8 (Victor 8). HT ini banyak dipakai di kalangan pekerja lapangan mulai perusahaan perkayuan, perkebunan sawit sampai tambang. Sebenarnya apa sih keunggulan HT ini? Sebelum lebih jauh, bisa cek spesifikasinya di sini.




Keunggulan:

Pertama
HT Icom V8 punya daya tangkap (receive) yang sensitif. Untuk ini sudah saya tes dengan perbandingan HT Alinco DJ196 dan Motorola GP2000. Saya menggunakan tambahan perangkat Boster Daiwa LA2035H yang preamp (penguat receive) masih berfungsi. Disambungkan dengan antena Telex High Gain standar dengen ketinggian 2 pipa sekitar 10 meter.

Lalu, setelah tersambung saya mencoba menerima transmite rekan yang jaraknya menurut Google Map, 204,1 KM. Hasilnya, V8 masih bisa menerima transmite dengan jelas, bisa ngobrol tanpa noise sedikit pun. Clear and clean.

Kemudian, HT saya ganti dengan Alinco DJ196 masih bisa menerima namun dengan suara noise di belakang modulasi rekan lawan bicara saya. Nah, terakhir saya menggunakan Motorola GP2000 juga masih bisa menerima menerima namun noisenya jauh lebih besar dari DJ196 itu pun harus open squel sampai angka 0.

Nah, kalau untuk transmite baik V8, DJ196, Motorola GP2000 standar di kisaran 5 watt dan saat disambung dengan Boster Daiwa LA2035H menjadi sekitar 30-an watt. 

Kedua
Modulasi yang empuk dan nyaman didengar lawan bicara. Hampir seperti pendahulunya Icom IC2N (Dua Nona). HT Icom V8 mempunyai suara yang enak, krenyes-krenyes, bahkan lawan bicara saya selalu menanyakan. "Radio opo iki Cak? Radio anyar ta?"

Padahal, radio ini ya V8 yang termasuk kategori radio lawas. Saya beruntung karena mendapatkan HT Icom V8 yang masih bagus. Tidak hanya mulus di casing. Namun dari sisi performa juga sangat bagus.

Kelemahan:

Satu saja kelemahannya, kapasitas baterai originalnya BP222N yang hanya 600mAH. Tentu saja ini menjadi masalah, jika anda seorang breaker. Artinya, HT V8 digunakan untuk ngobrol terus menerus. Bukan seperti para pekerja lapangan yang hanya sesekali untuk melaporkan hasil kerja atau berkoordinasi di lapangan.

Namun tidak perlu khawatir. Sebab sekarang sudah ada baterai V8 keluaran baru BP210N yang kapasitasnya 1650mAH. Tetapi bagi saya pribadi, saya tetap setia menggunakan baterai originalnya, yang kapasitas 600mAH. Sebab saya yakin pembuat HT ini sudah mempertimbangkan semua faktor dalam penentuan kapasitas baterainya. 



Tidak heran, jika banyak pemilik V8 yang berburu baterai ori BP222N kapasitas 600mAH. Baterai ini masih bisa ditemukan di forum-forum jual beli HT dan Rig. Namun jangan heran jika harganya hampir sama bahkan lebih mahal daripada baterai baru BP210N. 

Meski, ada juga beberapa rekan yang nekat mengganti dengan baterai baru dengan kapasitas lebih besar juga lancar saja berkomunikasi. Tapi ingat, pasti bakalan ada efeknya, saya sempat baca di salah satu review yang berbahasa Inggris, salah satu pengaruh nyatanya yakni penurunan performa Transmite (Tx) awalnya 5,5 watt lama kelamaan dengan penggunaan baterai yang tidak sesuai justru bisa menurun jadi 4 watt bahkan bisa kurang. Kasus ini terjadi tidak hanya pada Icom V8 tapi juga V85.

Terima kasih rekan yang sudah membaca review ini, mohon maaf apabila ada yang kurang pas. 

Saturday, August 26, 2017

Crime Not Relating to Religion, Ethnicity, and Race

Currently, Indonesia is entering a miserable era. Government supporters seem free to issue hate speech under the pretext of retaliating against the opposition. But, in fact, it's just as bad as what the opposition does.

Ironically, the government has only applied tough action on the opposition and as if to allow its supporters. As is the latest case, a fraud by Umroh travel organizers, First Travel. Accounts that incidentally support the president connecting the perpetrators of fraud crime First Travel with the Islamic religion of the perpetrators.




In the above caption clearly written, "MARK ZUCKERBERG - PRISCILLA CHAN
Kafir, total wealth of USD 50 billion, 100% halal, 99% of it donated for the benefit of education and health of mankind all over the world indifferent Tribe and Religion."

As if he were going to say, Mark who is a Jew and Priscilla who is a Chinese, and both of them a non-Muslim is much better than the married couple Andika Surachman and Anniesa Hasibuan who is Muslim, and his wife hijab also. Though the criminal act was not related to the tribe, religion, race of a person.

But there are also like the account below, according to my estimates, the owner also includes government supporters. But more wise in addressing this kind of case. This account commented on the Corruption Eradication Commission (KPK) which officially arrested the Director General of Sea Transportation Ministry of Transportation Antonius Tonny Budiono (Tonny Budiono). Tonny allegedly received a bribe from Commissioner of PT Adhiguna Keruktama Adiputra Kurniawan related to dredging work of Tanjung Mas Port Semarang. 




The caption is, "It is strange that this person can be a shark-class corrupt when he is not a Muslim, basically a criminal act not related to a person's religion and tribe a message for a collective punishment of a community because of the actions of a number of people in his community, In the ocean, we are victorious, at the harbor, we become crocodiles."

In my opinion, the pattern of linking criminals to sensitive things (ethnicity, religion, race) is very dangerous. Not only happened in Indonesia, a country like the USA has ever experienced it. Deep in the minds of the citizens of the USA, there are assumptions of colored people is evil, indian is a group evil people, black people are gangsters etc.

Surprisingly, the government supporters who claim to be Pancasila, uphold the differences, appreciate diversity, Bhinneka Tunggal Ika. However, their behavior is the same as those they claim to be intolerant. Funny is not it?

If there is genocide in Myanmar, we should not think that the religion of the perpetrators advocates genocide, then all those who profess the religion in Myanmar should be hostile. In essence, all religions may not teach their adherents to do evil. Even the man, God has been equipped to like the good things.

Then, drugs that try to enter Indonesia and successfully thwarted by the National Narcotics Agency (BNN) lately, many of these drugs come from China. But, that does not mean all Chinese people are evil, drug suppliers. There are also many good Chinese, we can not punish a community just because of the behavior of the community members.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tindak Pidana Tidak Berhubungan dengan Agama, Suku, dan Ras

Saat ini, Indonesia memasuki era yang menyedihkan. Golongan pendukung pemerintah seolah bebas mengeluarkan ujaran kebencian dengan dalih membalas kaum oposisi. Namun, sesungguhnya, hal itu sama jahatnya. 

Ironisnya, pemerintah hanya menerapkan tindakan tegas pada kaum oposisi dan seolah membiarkan kaum pendukungnya.Seperti kasus yang terbaru, penipuan yang dilakukan jasa penyelenggara perjalanan umroh, First Travel. Akun-akun yang notabene pendukung presiden menghubungkan pelaku kejahatan penipuan First Travel dengan agama Islam yang dianut pelaku.




Dalam caption di atas jelas tertulis, "MARK ZUCKERBERG - PRISCILLA CHAN
Kafir, total kekayaan USD 50 milyar, 100% halal, 99%nya didonasikan untuk kepentingan pendidikan dan kesehatan umat manusia di seluruh dunia tanpa pandang Suku dan Agama." 

Seolah-olah dia mau bilang, Mark yang seorang Yahudi dan Priscilla yang Tionghoa, dan non muslim jauh lebih baik daripada pasangan suami istri Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan yang muslim, dan istrinya berjilbab pula. Padahal tindakan kriminal itu tidak berhubungan dengan suku, agama, ras seseorang.

Namun ada juga yang seperti akun di bawah ini, menurut perkiraan saya, pemilik juga termasuk pendukung pemerintah. Namun lebih bijak dalam menyikapi kasus semacam ini. Akun ini mengkomentari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang resmi menahan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Antonius Tonny Budiono (Tonny Budiono). Tonny diduga menerima suap dari Komisaris PT Adhiguna Keruktama Adiputra Kurniawan terkait dengan pengerjaan pengerukan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang.




Captionnya, "Aneh juga org ini sampai bisa jadi koruptor kelas hiu padahal bukan org Islam. Pada dasarnya satu tindakan kriminal tidak berhubungan dgn agama dan suku seseorang sebuah pesan bagi yg suka menjatuhkan hukuman kolektif pada satu komunitas krn perbuatan sejumlah org dlm komunitasnya. Singkatnya di laut kita jaya di pelabuhan kita buaya."

Menurut saya, pola mengaitkan pelaku kejahatan dengan hal-hal berbau sensitif (suku, agama, ras) ini sangat berbahaya. Bukan hanya terjadi di Indonesia, negara sekelas USA pun pernah mengalaminya. Jauh dalam pemikiran warga USA, ada anggapan orang kulit berwarna itu jahat, orang Indian jahat, orang kulit hitam itu gangster dll. 

Anehnya, para pendukung pemerintah yang rata-rata mengklaim dirinya Pancasilais, menjunjung tinggi perbedaan, menghargai keragaman, Bhinneka Tunggal Ika. Namun, kelakuan mereka sama saja dengan orang-orang yang mereka klaim intoleran. Aneh kan?

Jika di Myanmar terjadi genosida, tidak boleh kita berpikir bahwa agama pelaku itu yang menganjurkan genosida, lalu semua orang yang beragama itu harus dimusuhi. Intinya, semua agama tidak mungkin mengajarkan penganutnya untuk berbuat kejahatan. Bahkan manusia itu, sudah dibekali Tuhan untuk menyukai hal-hal yang baik.


Lalu, narkoba yang mencoba masuk Indonesia dan berhasil digagalkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) akhir-akhir ini, banyak narkoba itu berasal dari China. Tapi, bukan berarti semua orang China (Tionghoa) itu jahat, pemasok narkoba. Banyak juga orang China yang baik, kita tidak bisa menghukum suatu komunitas hanya karena kelakuan anggota komunitas itu.


Tuesday, August 15, 2017

Indonesian Democracy System and Drug Dangers

Indonesia's democratic system which formerly was proud as a non-liberal and non-communist system. Pancasila democracy which is believed by the founders of Indonesia there is no gap for dictatorial leaders.

But in fact, in the old order, the first President of Indonesia, the proclaimer of Indonesian independence, Soekarno appointed himself president for life. We should agree, that's a form of dictatorship.

Then, during the New Order era, the second President of Indonesia, Soeharto seemed to apply the democratic system. But it is just a fake democracy, because he never be replaced for 32 years. For this second era, I do not need to explain, you can googling and find many references.

After the reform era, after passing 5 presidents in this era, just now, I became very worried about Indonesia's democratic system. If the new order suppresses repressively with the military, the current era is much more dire than that.




The government controls all media, NGO activists etc. to support whatever government policy. What's the difference with the new order? If their new orders (media, NGOs etc.) feel compelled to obey the government because it is repressively repressed.

But now, they willingly do it. The most obvious example, the small people in this country are suffering with the current economic conditions. However, if we look at the media, as if it did not happen. 

They always seek justification for the implementation of government policy, the growing debt of the country, the increase of electricity cost, the import of salt etc. People who try to launch criticism will be labeled as radical, anti pancasila even rebelled (makar).

Then, what's the relationship with the dangers of drugs? You see, with all the above descriptions, a competent or incompetent leader, capable or incapable, good or bad, it does not matter. Because by controlling public opinion, with mass hypnosis with media and partisan experts, all the ugly ones can look good.

I am afraid, with the massive drug business in Indonesia, one day Indonesia is dominated by drug mafia. They can infiltrate politicians and then control the country. Then they combine the new order way with the current era. 

The whole world knows what has happened in Colombia and is now happening in Mexico. First of course drug elimination, second stop all imaging and pretense, let sit together, open each other and we look for a common solution to the problems of this country.

--------------------------------------------------------------------

Sistem Demokrasi Indonesia dan Bahaya Narkoba

Sistem demokrasi Indonesia yang dahulu dibanggakan sebagai sistem non liberal dan non komunis (mungkin di tengah-tengah ACDC gitu kali ya). Demokrasi Pancasila yang diyakini para pendiri Indonesia tidak ada celah untuk lahirnya seorang diktator.

Tapi faktanya, pada orde lama, Presiden pertama Indonesia, proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup. Seharusnya kita sepakat, itu bentuk kediktatoran.

Kemudian, pada masa orde baru, Presiden kedua Indonesia, Soeharto seolah-olah menerapkan sistem demokrasi. Tapi itu hanya demokrasi semu, sebab dia tidak pernah bisa diganti selama 32 tahun. Untuk era kedua ini, tidak perlu saya jelaskan, anda bisa googling dan banyak referensinya.

Setelah era reformasi, setelah melewati 5 presiden di era ini, baru saat ini, saya menjadi sangat khawatir dengan sistem demokrasi Indonesia. Jika order baru menekan secara represif dengan militer, era saat ini jauh lebih mengerikan dari itu.

Pemerintah mengendalikan semua media, aktivis NGO dll untuk mendukung apa pun kebijakan pemerintah. Apa bedanya dengan orde baru? Kalau order baru mereka (media, NGO dll) merasa terpaksa menuruti pemerintah karena ditekan secara represif.

Tapi sekarang, mereka dengan sukarela melakukannya. Contoh paling nyata, rakyat kecil di negeri ini sangat menderita dengan kondisi perekonomian saat ini. Namun, kalau kita lihat di media, seolah hal itu tidak terjadi. 

Mereka selalu mencari pembenaran atas penerapan kebijakan pemerintah, soal hutang negara yang terus bertambah, kenaikan biaya listrik, impor garam dll. Orang-orang yang mencoba melancarkan kritik akan dicap sebagai radikal, anti pancasila bahkan memberontak (makar).

Lalu, apa hubungannya dengan bahaya narkoba? Begini, dengan semua uraian di atas, pemimpin cakap atau tidak cakap, mampu atau tidak mampu, baik atau tidak baik, itu semua tidak menjadi masalah. Sebab dengan mengendalikan opini masyarakat, dengan hipnotis masal dengan media dan pakar-pakar partisan, semua yang jelek pun bisa tampak baik.

Saya khawatir, dengan masifnya bisnis narkoba di Indonesia, suatu saat Indonesia dikuasai mafia narkoba. Mereka bisa menyusup menjadi politisi lalu mengendalikan negara ini. Lalu mereka menggabungkan cara order baru dengan era terkini. 

Seluruh dunia tahu apa yang pernah terjadi di Kolombia dan sekarang sedang terjadi di Meksiko. Mungkin saya terlalu paranoid, namun tidak ada salahnya kita waspada. Pertama tentu berantas narkoba, kedua hentikan semua pencitraan dan kepura-puraan, mari duduk bersama, saling terbuka dan kita cari solusi bersama atas masalah negara ini.

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.