Thursday, November 19, 2015

Saat Pedagang Pengen Ganti Ungkapan Mengenai Kacang Goreng

Kisah yang akan saya ceritakan ini meski kelihatan sepele. Namun sangat dalam artinya bagi saya, mungkin bagi anda juga setelah membacanya. Ini soal pertemuan saya dengan seorang pedagang kacang goreng yang saya temui tadi pagi saat ngopi di sebuah warung pinggir jalan.

Warung pangkalan truk ini memang ramai di sore hingga malam hari. Namun tidak di pagi hari. Sekitar pukul 8 pagi, saya pesan kopi dan menikmati beberapa potong tahu bacem. Sebelum di bangku kayu sebelah saya datang seorang bapak-bapak pedagang asongan yang mengaku bernama Pujianto. Perkiraan saya, usianya 40 tahunan.

ilustrasi: anekacamilankeluarga.blogspot.com

Tas asongan yang terbuat dari jalinan kawat itu berisi kacang goreng yang direntengi di plastik-plastik panjang. Harganya Rp 2000,- per plastik. Saya tahu sebab sesaat sebelum duduk Kang Puji sempat menawarkan ke beberapa orang di sekitar warung. Selain kacang goreng, ada beberapa kerupuk, tapi yang dominan memang kacang goreng.

"Nuwun sewu Mas, nderek lenggah (Permisi Mas, numpang duduk)," katanya saat pertama kali menyapa sambil membuka topinya.

"Inggih Mas, monggo-monggo. Pripun Mas? Mesti laris ini, kan sadean (jualan) kacang goreng," kata saya membalas salamnya.

"Waduh Mas, miturut kulo, menawi kahanan kados mekaten meniko, paribasan laris seperti kacang goreng kedah dipun gantos (Waduh Mas, menurut saya, kalau kondisi seperti sekarang, perumpamaan laris seperti kacang goreng itu harus diganti)," keluh dia.

"Loh kok saged mekaten Mas? Lha pripun to? Mboten pajeng napa kacang e? (Loh kok bisa begitu Mas? Lha gimana to? Apa tidak laku kacangnya?)," tanya saya.

"Sak niki napa-napa susah Mas, kulo sadean kacang setunggal (plastik) kalih ewu mawong jarang sing tumbas sak niki, kulo mboten nyalahke sing tumbas, lha menawi artone ngepres lak langkung sae kangge tumbas beras, mboten usah jajan, lha terus kulo pripun? Napa kedah pensiun saking bisnis kacang goreng he..he..he..," (Sekarang ini apa-apa susah Mas, saya jualan kacang satu plastik dua ribu saja tidak ada yang beli sekarang ini, saya tidak menyalahkan yang beli, lha kalau memang uangnya ngepres pas-pasan kan lebih baik utnuk beli beras, tidak usah jajan. Lha terus saya bagaimana? Apa harus pensiun dari bisnis kacang goreng)" kata Puji sambil tertawa.

Meski begitu, Puji mengaku tetap bersemangat menjalani hidup. Selain jualan asongan, dia juga bisa memijat, meski sekarang sopir yang biasa pijat setiap minggu jadi dua minggu sekali. Namun keinginannya semangatnya agar tiga anaknya jadi sarjana semua mengalahkan semua kesusahan yang dia alami. "Sing penting niku tansah eling, syukur lan ibadah dumateng Gusti Allah Mas, mpun kulo pasrah mawon," (yang penting selalu ingat, syukur dan beribadah kepada Gusti Allah, sudah saya pasrah saja," kata Puji.

Matur suwun Kang Pujianto, saya belajar banyak dari penjenengan. Bahkan penjenengan sudah bisa benar-benar merdeka, merdeka pikiran e, dadi wong paling sugih sak donya, sebab bisa bersyukur atas nikmat Allah SWT dan bersabar atas semua kesusahan yang menjadi ujian dari Allah SWT.

2 comments:

  1. Memang semua itu tergantung niat, usaha, do'a dan semangat. jika semua sudah terlaksana apapun pekerjaannya, kapan pun, dan dimna pun .. InsyaALLAH

    ReplyDelete
  2. satu hal yg saya petik dari pedagang itu, semua yg disajikan di TV dan korang-koran soal ekonomi yang membaik, ternyata jauh panggang dari apa, hanya saja, beruntung ada orang2 spt pedagang kacang itu yg senantiasa bersyukur....

    ReplyDelete

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.