Monday, August 24, 2009

Tutorial Bangkit dari Kondisi Sulit ala Daniel

Saya yakin kita semua pernah mengalami keterpurukan. Bahkan mungkin saking terpuruknya, kita seolah putus asa dengan hidup yang kita jalani. Membaca judul di atas, anda mungkin akan bertanya-tanya. Siapakah Daniel? Kok saya belum pernah mendengar namanya di kalangan para motivator? Tidak salah anda bertanya semacam itu, karena Pak Daniel ini merupakan motivator yang secara kebetulan saya temukan di kota Pangkalan Bun.

Kisah ini berawal, pada saat kami baru saja pindah ke kota ini. Terdorong keinginan istri untuk membeli peralatan listrik dan perabotan sebagai pengisi rumah (kontrakan) kami yang baru, Kami pun berkeliling layaknya masa pacaran. Setelah membeli perlengkapan rumah tangga, kami pun terpikir untuk mencari alat-alat listrik. Pasar Indra Kencana adalah satu-satunya tujuan kami, karena tempat itulah sentral paling ramai di kota ini.

Sampai di komplek pasar, kami mampir di TOKO CITIZEN. Sebuah toko yang tidak bisa dibilang besar, hanya bentuknya memanjang. Barang-barang berjejal di sana sini. Toko ini berada di seberang jalan 100 meter dari HOTEL CITY, tempat kami biasa menginap ketika belum pindah ke Pangkalan Bun. Masuk ke Toko, kami disambut seorang pria berkacamata yang usianya kurang lebih 50-an. Ia dibantu seorang saudaranya menanyakan seputar keperluan kami. Kami membeli 3 buah lampu neon, kabel rol meter, dan sebuah jek T. Pria berkacamata itu bernama Pak Daniel dan saudaranya bernama Pak Iwan.

Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja diantara kami. Saya hanya bisa mengatakan Luar Biasa! Dari sekian toko di kota ini. Baru saya temui seorang pemilik sekaligus pelayan toko yang sangat ramah, penuh filosofi, dan sangat mengutamakan kejujuran dalam perniagaannya. Dua gelas plastik air mineral ia suguhkan, dan mulailah kami bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Kami bercerita tentang hidup, Feng Sui, dan terutama bangkit dari keterpurukan. Mereka berdua dengan sangat ramah melayani kami bahkan tidak pernah peduli kami ini kere atau orang kaya. Itulah yang saya sangat sukai.

Pak Daniel mempunyai perjalanan bisnis yang cukup panjang. Ia pernah berbisnis cargo yang akhirnya berhenti. Ia dan keluarga berasal dari Banjarmasin Kal-Sel. Seperti layaknya etnis Tiong Hoa, Pak Daniel telah bergelut dengan dunia dagang sejak muda. Pengalaman paling berkesan sekaligus paling menyedihkan adalah saat ia mengatakan bahwa ia pernah mengalami kebakaran sampai tiga kali. Untuk ukuran orang biasa dengan kekuatan emosional yang biasa-biasa saja, hal ini tentu sudah membuat seseorang stress. Namun tidak bagi Pak Daniel, ia pindah dari Banjarmasin ke Pangkalan Bun dua puluh tahun yang lalu. Ia hidup di Pasar Indra Kencana (pada waktu itu masih pasar lama), tidur beralaskan tikar, dan berdagang kecil-kecilan. Pada waktu itu, hidup sangat susah bahkan untuk makan saja, Pak Daniel sekeluarga menunggu es batu yang ia buat laku.

Ia mengatakan, dalam menghadapi hidup ini jangan pernah ada kata menyerah. Kita harus sadar betul, sukses juga bergantung dengan orang sekitar kita. Apa salahnya kita ramah dengan orang-orang sekitar kita? Jika memang berbisnis jangan tanggung-tanggung, ada niat jalankan. Meskipun dari nol. Jadilah seperti yang ia alami selama ini. Sukses tidak berbangga diri, terpuruk pun tidak menangis. Ia pun senantiasa bersyukur, bisa punya usaha. Masih banyak saudara kita yang lain yang tidak punya penghasilan.

Satu hal lagi yang membuat kami bertanya-tanya, semua Kaset dan CD yang dijual Pak Daniel adalah produk original. CD dan Kaset seperti ini hanya dijual di Popeye Music Cassette atau Bulletin dan toko musik besar jika di kota saya di Yogyakarta. Apakah dia tidak takut rugi? Ia mengatakan, perdagangan ini bukan hanya uangnya yang dipikirkan namun barokahnya (jika boleh membahasakan begitu karena filosofinya panjang sekali). Jika kita menjual barang asli, maka rejeki itu berkah untuk dia dan semua (baik pembeli, penyanyi yang direkam suaranya, produser, studio rekaman, dll). Untuk hal ini seharusnya sich, Pak Daniel dapat penghargaan dari penyanyi-penyanyi itu He...he...he...

Setelah panjang lebar kami bercerita, kami membeli salah satu televisi dagangan Pak Daniel. Merk Korea yang kurang terkenal, TV 14 Inchi seharga Rp. 600.000,- ditambah 3 lampu neon, jek T, sepasang baterai alkaline (untuk kamera yang dipergunakan memotret ini). Saya juga bilang sama Pak Daniel, jika kota ini kelak berkembang menjadi seperti Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta sementara orang-orang masih berdagang dengan cara lama, pasti Pak Daniel akan ketimpa untungnya. Suatu saat ketika orang-orang banyak cari barang yang asli, orang-orang cari toko dengan pelayanan yang ramah tanpa pandang bulu, orang-orang belanja tidak sekedar menukar uang dengan barang namun lebih hubungan psikologis antar sesama. Sudah pasti CITIZEN akan menjadi pilihan bagi semua citizen (warga).


0 comments:

Post a Comment

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.