Thursday, August 13, 2009

Indonesia Bangsa Terkuat di Dunia

JIKA diadakan lomba berdiri terlama di dunia mungkin orang Indonesia harus secepatnya mengisi formulir dan mengikuti lomba tersebut. Apa sebab? Tidak lain adalah budaya bangsa kita yang sejak jaman simbah-simbah (nenek moyang) dulu selalu ‘antre’ untuk mendapatkan sesuatu terutama makanan. Jaman itu bisa dipahami karena bangsa kita masih di bawah kendali bangsa penjajah. Namun apa lacur, saat ini dikala kemerdekaan telah melewati ambang batas keemasan (limapuluh tahun lebih merdeka) toh bangsa kita masih tetap setia berdiri di antrian-antrian panjang.

Antre secara terminologi berarti berdiri berderet-deret memanjang untuk mendapatkan giliran untuk mendapatkan sesuatu (membeli karcis, mendapat ransum, yang terbaru mendapatkan BBM-Red). Orang bijak maka akan antre, itulah petikan iklan layanan masyarakat yang pernah menjadi trend beberapa waktu lalu. Tapi, lain ceritanya jika orang dipaksa bijaksana untuk antre. Inilah yang terjadi pada saat ini. Kebijaksanaan untuk menaikkan BBM beberapa waktu lalu misalnya menuai pawai antre di SPBU-SPBU Pertamina. Tentu saja hal ini semakin mengukungkan track record bangsa Indonesia sebagai bangsa ‘antre’ yang diturunkan sejak nenek moyang dahulu.

Untuk melihat sampai ke jaman penjajah mungkin kita kewalahan, di tahun enampuluhan kita juga pernah mengalami antrian-antrian yang panjang. Tepatnya tahun 1965 yang pada bulan September terjadi peristiwa bersejarah yang tidak akan terlupakan bagi bangsa kita. Tentu saja bukan sisi politik, ekonomi, atau pun yang lain. Tapi pelajaran budaya yang bisa dipetik peristiwa ini yang akan kita bahas. Cukuplah sejarahwan dan politikus yang membahasnya. Pokok permasalahan kita adalah ‘Antre’, yang seolah telah menjadi icon keseharian bangsa kita sampai saat ini.

Pelangsir BBM--Upaya penindakan terhadap pelangsir BBM hanya sebatas slogan. Tampak ratusan pelangsir BBM di salah satu SPBU di Jln Pakunegara Pangkalan Bun. Mereka acuh saja dengan peringatan pemerintah setempat melalui baliho yang dipasang dengan gambar Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dan Wakil Gubernur Achmad Diran yang akan menindak aktivitas melangsir BBM.

Apa yang tidak didapatkan dengan ‘antre’? Hampir semuanya. Mulai pelayanan umum, pendidikan, bahkan mencari pekerjaan. Antrenya pun tidak tanggung-tanggung, bisa bikin varises di kaki kalau istilah group musik Project-P. Jika ini benar seperti kata pepatah (yang kesannya memang dibuat-buat-Red) sudah barang tentu kita sepakat saja untuk antre di setiap kesempatan. Namun, apa yang terjadi? Tetap saja bangsa kita tidak tertib apalagi bijaksana. Antre menjadi hal yang mulai serius dibahas (meskipun sudah terjadi turun temurun) setelah kasus meninggalnya warga yang antre untuk mendapatkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang merupakan dana kompensasi dari kenaikan BBM bagi rakyat miskin.

Bangsa antre ini memang meningkat level keberingasannya saat ini. Banyak kasus yang terjadi semakin membuktikan tidak adanya relevansi antara antre dan bijaksana. Beberapa yang bisa disebutkan disini antara lain, Pilkada yang dirancang supaya kondisi tata pemerintahan di daerah lebih dekat dengan masyarakat dan lebih tertib justru menjadi malapetaka dengan adanya baku hantam dan perusakan di berbagai daerah. Perhelatan olahraga terbesar Liga Sepakbola PSSI yang bertujuan menggalang persahabatan dan persatuan bangsa lewat olah raga justru menjadi ajang baru ‘tarung bebas’ di jalanan. Peristiwa fenomenal yang tak akan terlupakan adalah pada tahun 2005 dimana babak final (delapan besar kala itu) Liga Djarum Indonesia yang berakhir kericuhan di areal Gelora Bung Karno, diikuti pula oleh final Copa Dji Sam Soe Indonesia yang juga menuai petaka, terakhir BLT yang sedianya untuk ‘memperbaiki taraf hidup’ tetapi malah mengantarkan beberapa orang menuju pintu kematian karena terjadinya dorong mendorong dalam antrian.

Tak terhitung kerugian moral maupun material sebagai akibat ulah ‘bangsa bijaksana’ ini. Fakta-fakta di atas membuktikan ‘antre’ sebagai budaya yang umum dilakukan oleh bangsa kita sampai saat ini belum diresapi maknanya secara mendalam. Logikanya begini, di masa lalu bangsa kita kekurangan pangan lalu muncul budaya ‘tirakat’ (melakukan sesuatu secara luar biasa dan kadang melebihi takaran kemampuan orang normal) yang mengurangi makan, tidur, atau pun bepergian. Saat itu dilakukan secara over (melebihi takaran) si pelaku mendapatkan reward (imbalan) berupa kesaktian atau yang lain. Sehingga boleh disamakan, jika ‘antre’ dilakukan secara terus menerus, di berbagai kesempatan dan suasana, waktu berdiri di antrean yang relatif lama, seharusnya label bijaksana atau dalam istilah lain arif yang efeknya membuat orang menjadi lebih sabar ini terwujud. Kesabaran yang dimiliki bangsa Indonesia seharusnya melebihi bangsa lain yang waktu antrenya tidak lebih lama dari kita. Seharusnya bangsa Indonesia bukan bangsa yang emosional karena dilatih dengan ‘tirakat antre’ secara turun temurun sejak jaman penjajahan.

Tetap saja kerusuhan terjadi dimana-mana. Kalah dalam pilkada bisa saja dimaknai ‘masih berdiri di antrian’ toh periode ke depan masih bisa menjagokan lagi. Tidak dapat mengangkat tropi Liga musim ini toh masih ada kesempatan antri untuk merebutnya musim mendatang. Apa susahnya? Mungkin antrian kita kurang panjang dan antre yang kita lakukan saat ini belum bisa menimbulkan varises di kaki, belum over sehingga kita belum bisa mencapai tingkat kesabaran yang tinggi. Tetap dengan catatan bahwa ‘antre’ memang benar merupakan indikator orang bijaksana. Apa yang perlu kita lakukan sekarang sebagai bangsa? Satu saja, memperbaiki sarana dan prasarana umum, mengganti petugas-petugas yang tidak cakap sehingga minimal ada satu saja yang bisa didapatkan bangsa ini tidak dengan antrian-antrian yang panjang. Merubah struktur kerja pelayan publik untuk benar-benar melayani publik bukan malah mempersulit publik seperti yang terjadi di banyak kawasan pedesaan di negeri ini.

2 comments:

  1. Selain kuat, juga sabar.
    Terutama yang tinggal di kota-kota penuh kemacetan.

    Selain kuat dan sabar, juga kaya.
    Bahan makanan saja banyak impor.

    :(

    ReplyDelete
  2. benar sekali Mas, semuanya serba menuntut kesabaran he3x

    ReplyDelete

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.