Tuesday, August 11, 2009

Bom Barat dan Budaya Manusia

Saat ini bagi sebagian orang, Barat seolah telah menjadi ancaman nyata bagi kerusakan moral dan budaya. Terlepas dari maraknya aksi bom yang terjadi akhir-akhir ini. Sebenarnya, banyak guru dan orang tua yang memberikan pitutur (ajaran) yang salah kaprah mengenai Barat. Barat selalu diidentikan dengan budaya yang antah berantah, asusila, bahkan tidak punya sopan santun, sedangkan Timur lebih santun, berbudaya, adiluhung (tinggi).


Doktrin yang salah kaprah ini dihembuskan secara terus menerus pada anak-anak negeri ini melalui sekolah-sekolah dan rumah-rumah di negeri ini. Sehingga tidak heran jika mereka tidak dapat memetik satu pun budaya positif dari Barat meskipun tanpa disadari kita bersentuhan dengan produk barat setiap harinya. Bahkan mungkin pengebom yang beraksi atas nama Jihad itu pun menggunakan produk Barat juga. Melalui tulisan ini, saya ingin melihat dimensi yang berbeda dalam kita memaknai Barat.


Sejalan dengan perubahan masyarakat maka berubah pula sistem nilai budayanya. Banyak hal yang mempengaruhi proses perubahan dalam budaya masyarakat. Satu hal yang pasti, perubahan terus terjadi seiring waktu. Ada yang berjalan lambat, ada juga yang terjadi secara cepat bahkan sekonyong-konyong. Antara kronologis keberadaan manusia pada suatu tempat dan suatu waktu terkait secara runtut dengan saling mengikuti selama proses evolusinya. Perkembangan pola pikir, pola aktivitas, dan pola hubungan sosial menjadi pegas utama yang melontarkan manusia untuk membuat loncatan yang membawa manusia ke jenjang peradaban yang lebih tinggi.


Istilah modern, berasal dari akar kata adverbia dalam bahasa latin berarti just now. Dalam bahasa Inggris kata modern dihadapkan pada kata ancient. Kapan manusia memasuki abad modern? Jika dirunut secara historis istilah modern akan berhubungan dengan dunia barat khususnya kondisi Eropa di abad pertengahan. Zaman ini berhubungan erat dengan masa-masa selanjutnya yakni zaman renaisance, reformasi, sampai era Aufklarung yang mengutamakan rasionalitas di atas segalanya dengan jargonnya, “saya berpikir maka saya ada.” Pola ini terus berkembang menembus abad ke-19.


Pada masa ini, manusia mulai menjadi pemikir dan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Sir Isaac Newton, dengan hasil kitab matematika karyanya “Principia” telah menjadi dasar bagi ilmuwan generasi berikutnya untuk menciptakan alat-alat bantu yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Teori spektrum cahaya menjadi dasar bagi alat-alat audio visual yang ada saat ini.


Garis demarkasi masa modern dan sebelum modern selain berkembangnya ilmu pengetahuan adalah munculnya penataan sosial masyarakat yang lebih demokratis. Bahkan ilmu pengetahuan hanyalah satu dari beberapa pintu modernitas itu sendiri. Beberapa hal yang bisa disebutkan antara lain munculnya kedaulatan atas negara yang bersifat mandiri, timbulnya negara nasional yang berdaulat, munculnya cara produksi kapitalis, prinsip perwakilan dalam lembaga politik –sekaligus meninggalkan sistem politik langsung ala polis-polis Yunani– dan terpisahnya hubungan antara negara dan gereja (agama) secara tegas atau dengan bahasa sederhana memisahkan angka sebagai bahasa sains dan mitos sebagai bahasa agama.


Modernitas merupakan rantai terpendek –hanya beberapa ratus tahun saja– dalam proses evolusi budaya manusia namun merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia selanjutnya. Ilmu eksak yang berkembang menjadi teknologi yang semakin mempermudah kehidupan manusia sedangkan dalam perspektif ilmu sosial politik memunculkan dua kubu yang saling bertentangan yakni kaum konservatif –mempertahankan prinsip dan tujuan lama dengan kompromistis paradigma antara konsep lama dengan konsep baru– dan kaum revolusioner –cenderung radikal dan frontal mengikis habis budaya lama– yang tetap ada sampai saat ini. Dua kubu ini saling melemparkan wacana untuk mendapat pengakuan manusia atas kebenaran konsep yang mereka bangun.


Benarkah Kerusakan Moral Sebagai Dosa Barat?


Kehidupan kelompok masyarakat adalah suatu proses antara perorangan dalam kelompoknya didukung oleh sistem nilai yang dapat berupa pembenaran, penguasaan, penolakan, dan bisa jadi penghukuman terhadap suatu kaum. Tendensi serius dalam perkembangan atau evolusi kebudayaan dewasa ini adalah kecenderungan untuk meniru suatu produk, teknologi, dan praktek industri. Kecenderungan pluralisme perilaku seperti ini menyebabkan suatu bangsa kehilangan makna akan kesukuannya.


Pada dasarnya, semua manusia dari ras apapun telah mengalami evolusi semacam ini. Evolusi kebudayaan memang tidak lepas dari penetrasi budaya suatu bangsa ke bangsa lain terlebih dengan adanya proses kolonialisasi yang merupakan salah satu kereta pendorong modernitas. Bangsa barat sebagai agen modernitas sudah barang tentu menapaki tangga terlebih dulu daripada bangsa timur sebagai penerima hasil modernitas. Pertanyaan yang muncul pada akhirnya adalah apakah kerusakan moral yang sedemikian rupa merupakan dosa barat? Tentu saja tidak serta merta seperti itu. Ada hal-hal yang tanpa disadari merupakan agen utama kemajuan atau kemunduran bahkan kehancuran suatu bangsa. Hal tersebut tidak lain adalah ‘budaya bangsa itu sendiri’. Sebelum kita memasuki ranah amoral dan moral. Ada baiknya kita melihat kembali bagaimana modernitas yang melanda Eropa terjadi secara sederhana.


Ada jutaan orang yang mempunyai Pohon Apel di Inggris. Setiap harinya, tentu ratusan diantaranya kejatuhan apel dari pohon miliknya. Namun, mengapa hanya Isaac Newton yang menemukan teori gravitasi? Di Yunani, jutaan masyarakatnya yang mandi menggunakan bak (Bath Up) tapi hanya Archimedes yang menemukan hukum yang dapat digunakan untuk membuat kapal Titanic beberapa ratus tahun kemudian. Selain itu, banyak kejadian yang sejenis terjadi pada masa itu. Jika kalangan Barat saja masih sedikit orang yang berpikir untuk pembaharuan apalagi di Timur yang pada waktu itu berkutat pada mitologi dan kultus individu. Apa yang dikatakan Raja adalah benar –sabda pandhita ratu– yang tidak memungkinkan kreativitas berkembang. Tak heran, masa kecil kita dipenuhi dengan Buto Ijo nguntal bulan (Raksasa Hijau yang menelan Bulan) adalah penyebab gerhana bulan.


Jadi, logikanya pembentukan atau sebaliknya penghancuran budaya itu berasal dari kreativitas individu dan bukan dosa suatu komunitas. Meskipun faktor kekuasaan merupakan kepingan penting diantara sekian keping puzzle pembentuk modernitas. Dikatakan puzzle karena kekuasaan bisa membentuk sekaligus bisa merusak tatanan yang akan dibangun. Terbukti saat Gallilei Gallileo menyatakan thesisnya mengenai bumi yang mengelilingi matahari. Dia harus dihukum mati karena melawan kekuasaan (Gereja) yang berpendapat sebaliknya. Kisah ini pun menjadi inspirasi sampai sekarang untuk menjadi acuan kebebasan dalam mengutarakan suatu pendapat.


Singa Asia Bernama Indonesia


Mengapa Indonesia tidak bisa berpikir kreatif? Stigma umum yang berkembang di Indonesia bahkan di banyak negara timur tidak lepas dari era abad ke-19 sampai awal abad ke-20 dimana kolonialisme melanda Timur dan dunia baru (Amerika). Indonesia mengalami runtutan panjang keterpengaruhan budaya Barat mulai penjajahan Portugis, Inggris, Belanda, dan dari bangsa Timur sendiri, Jepang. Satu hal yang perlu dicatat bahwa tidak hanya Indonesia yang mengalami kolonisasi, banyak negara-negara asia lainnya yang juga bernasib sama.


Lalu, mengapa pada level kekinian justru Indonesia menjadi negara yang paling terpuruk diantara yang lain? Padahal Indonesia secara historis merupakan negara yang paling awal mendapatkan pengakuan kedaulatan diantara sekian negara koloni di kawasan Asia. Ini tidak lepas perspektif yang berkembang pada fase pasca Indonesia merdeka. Semua model yang berbau kolonial (Barat) merupakan suatu yang jelek. Padahal banyak budaya barat yang mendorong kemajuan –seperti pada abad pertengahan– yang justru diadobsi oleh negara-negara yang usianya lebih muda, termasuk Jepang pasca peledakan nuklir di Hiroshima dan Nagasaki.


Ini terlihat dari kemajuan beberapa negara tetangga seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan beberapa negara lainnya. Budaya untuk berpikir kreatif inovatif, tepat waktu, malu untuk menjadi pengangguran, membaca, budaya bersih, tertib teratur, antri, dan sekian ratus budaya positif lainnya kita kesampingkan begitu saja. Indonesia seolah ingin langsung berlari tanpa melalui proses merangkak bahkan terjatuh. Kita hanya mengadobsi budaya post modern padahal secara sosiokultural kita masih berada di abad ke-15 bagi dunia Barat, dimana acara hantu-hantuan berbau mistik lebih diminati daripada Talk Show, atau dengan kata lain mitologi masih lebih dominan dari rasionalitas. Sehingga segala sesuatu dikendalikan atas mitos-mitos.


Sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk memunculkan suatu lontaran peradaban. Satu catatan, pada perlombaan yang menguji daya intelektual, anak-anak bangsa meraih prestasi yang tak terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Olimpiade matematika, olimpiade fisika, bahkan di dunia maya (cyberspace) kaum hacker Indonesia adalah momok bagi dunia. Mengapa bangsa kita lebih cenderung ke arah negatif? Inilah pokok masalahnya. Untuk mengarahkan suatu kelebihan menjadi hal yang positif merupakan pekerjaan yang teramat sulit di negeri ini. Segala macam kompetisi dari arena Sepakbola sampai Pilkada selalu dimaknai sebagai arena baku hantam.


Taruhlah Barat itu sebagai ancaman terhadap budaya kita, seharusnya yang kita lakukan adalah memperbaiki citra budaya kita. (salah satunya mengurangi baku hantam sebagai penyelesaian atas suatu masalah). Alangkah naifnya, sudah tahu diserang dengan berbagai budaya. Bukannya memperkuat kapasitas kita sendiri, tetapi justru sibuk mencela kesana kemari. Lucunya, donor dari barat tetap saja diterima. Mungkin satu-satunya budaya yang jamak dianggap baik dan bisa membuat kita tersenyum bahkan terkekeh-kekeh dari Bangsa Barat adalah ‘mereka suka memberi pinjaman atau donasi’ kepada kita. Selanjutnya, mati ketawa ala Indonesia karena cekikan hutang yang semakin lama semakin tak terkendali.


Saya ingin menanyakan beberapa hal yang TIDAK pernah ditanyakan oleh media manapun dalam wawancara apapun mengenai Teror Bom. Adapun beberapa pertanyaan yang saya maksud antara lain:


Pertama


Mengapa semua teror bom ada sejak orde baru tumbang? dahulu tatkala Orde Baru berkuasa mengapa samasekali tidak muncul baik Noordin M Top maupun Dr. Azahari.


Kedua


Mereka jelas-jelas warga negara Malaysia. Mengapa mereka tidak melakukan teror bom di Malaysia yang notabene lebih banyak kepentingan USA dan Inggris disana. Malaysia bahkan termasuk persemakmuran Inggris. Apakah Noordin M Top sangat pengecut sehingga takut jika dia meledakkan salah satu tempat di Malaysia yang bakal jadi korban adalah sanak familinya sendiri?


Lalu saat mereka meledakkan Hotel JW Marriot dan Ritch Carlton mengapa menunggu Klub Sepakbola Manchester United datang dulu ke Malaysia. Pada akhirnya Indonesia yang dirugikan sedangkan Malaysia diuntungkan karena bisa main dua kali. Jika dia memang mencegah orang Islam untuk memuja MU, seharusnya pengeboman dilakukan jauh sebelum Tour Asia Tenggara MU berlangsung. Jadi, Malaysia juga tidak kebagian jatah karena MU akan membatalkan seluruh kunjungannya ke Asia Tenggrar. Jelas, Si Noordin M Top ini meskipun tidak secara langsung tetap membawa misi Malaysia.


Ketiga


Mereka menghalalkan merampok toko mas untuk dana pengeboman. Mengapa tidak sekalian saja menyuntik virus HIV ke istri mereka lalu disuruh melacur ke Warga Negara Amerika. Saya rasa itu lebih tepat sasaran. Bukankah halal haram sudah tidak jelas lagi dalam pola kerja teroris ini?


Keempat


Jelas Rasullallah Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan membunuh orang dengan membabibuta sehingga mengenai wanita dan anak-anak. Jelas mereka itu hanyalah penjahat yang akan menjadi kerak neraka.Untuk poin ini mungkin lebih tepat kalau anda sekalian searching di google mengenai hukum-hukum Islam yang mengatur hal ini. Sekarang sudah lihat kan? betapa bodohnya bangsa kita? mengapa tidak satu pun dari anak buah Noordin M Top mengusulkan untuk melakukan pengeboman di Malaysia? Pasti Noordin tidak berani. Ia beraninya menggunakan orang-orang Indonesia untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Anehnya, medan “jihad” yang dijadikan laboratorium bom untuk melawan kepentingan AS, adalah Indonesia, bukan Singapura yang menjadi basis keuangan kapitalisme global misalnya, atau Filipina yang memang menjadi sahabat AS sejak lama. Benar-benar pola perjuangan yang tidak jelas dan tidak beralasan.


Dengan semua kenyataan di atas. Lalu, kapan kita sempat memikirkan budaya kita? Lha wong kita ini Singa yang ‘netek’ pada Kambing. Akhirnya, ya wujudnya Singa tapi makannya rumput seperti kambing, ‘aumannya’ berganti ‘embikan’ kambing, dan hampir mustahil akan menemukan jiwa singanya kembali jika kita tidak segera menyadarinya. Bangsa yang akan selalu anut grubyug (menurut kemana dibawa) termasuk jika diajak untuk melakukan pembunuhan massal terhadap bangsanya sendiri dengan jalan bom bunuh diri.

2 comments:

  1. wangun...wangun...aku seneng gaya nulismu. tapi nek oleh usul: duowooo banget ndes! mungkin kalo agak pencek, ringkas dan cerdas akan lebih enak dibaca.
    intine: MALAYSIA BAJINGAN!!!!

    ReplyDelete
  2. Wis genah nek malingsia ki cen bangsat, diuyuhi rame2 piye ben banjir?

    ReplyDelete

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.