Thursday, April 4, 2013

Wartawan Harus Bisa Jaga Martabat Profesi

WARTAWAN merupakan salah satu profesi yang diakui keberadaannya dalam kehidupan publik. Terdapat banyak profesi yang dilembagakan dalam beragam sektor birokrasi di Indonesia antara lain Jaksa, Hakim, Pengacara, Notaris, Dokter, Laboran, Peneliti dll, Tidak berbeda dengan profesi lain, wartawan juga mempunyai kode etik yang harus dipatuhi.

"Eksistensi setiap profesi akan selalu hadir di tengah persinggungan dua arus kepentingan yaitu kepentingan publik dan kepentingan elit,"kata Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Nyarwi Ahmad kepada puluhan jurnalis yang menjadi peserta diskusi dalam rangka perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Pendopo Monumen Palagan Sambi Pangkalan Bun, Minggu (3/3). Hadir dalam kegiatan tersebut puluhan jurnalis dari berbagai media yang ada di Kabupaten Kobar, Lamandau dan Sukamara.

Ia melanjutkan wartawan merupakan profesi yang unik. Pasalnya, berbeda dengan profesi lain, wartawan sifatnya lebih terbuka. Artinya, latar belakang pendidikan apapun bisa menjadi wartawan. Sedangkan profesi dokter atau pengacara memerlukan keahlian yang spesifik. Meski begitu, profesi wartawan masih dianggap belum setara dengan profesi dokter atau pengacara di ranah publik Indonesia. Sehingga penghargaan terhadap karya-karya jurnalistik masih rendah.

Menurut Nyarwi, wartawan harus mampu menjaga martabat. Fakta yang dihadapi wartawan di lapangan, bekerja sesuai dengan kode etik dan hukum profesi kewartawanan tidak mudah. Medan yang berat sering menjebak wartawan dalam dua kutub yakni idealisme kiri dan kanan. Idealisme kiri yang identik dengan pengembangan skill sedangkan idealisme kanan identik dengan kepentingan elit yang akrab dengan adagium wani piro (berani bayar berapa)?. "Setiap wartawan harus mampu berfikir dan bekerja tidak hanya sekedar produktif namun juga cerdas dan etis."

Ditemui di tempat yang sama, Wakil Bupati Bambang Purwanto menghimbau kepada semua media untuk menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Sebab informasi yang tidak disertai fakta akan menyesatkan dan merugikan media itu sendiri. "Kalau yang ditulis itu tidak berdasarkan fakta, pasti perlahan-lahan akan ditinggalkan masyarakat." 

0 comments:

Post a Comment

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.