Monday, November 9, 2009

Isu Aa Gym digugat cerai: Sebuah Refleksi Seorang Muslim Biasa

Aa Gym dan kedua istrinya

Entah sudah berapa kali, kepada berapa orang, pada berapa kali kesempatan, saya selalu mengungkapkan bahwa saya ingin setiap orang menjalankan Islam yang biasa-biasa saja. Sebagian orang yang mendengar langsung terpikir bahwa sangat berbahaya aliran kebiasaan yang saya bawa ini (Pokok e intine biasa wae Cak, Islam sing iso dimengerti kabeh wong). Orang bilang saya abanganlah, tidak cinta Islamlah, tidak kuat imanlah, macam-macam yang keluar dari mulut orang (yo wis ben Cak, wong durung mesti sholat lima waktune, tahajjud e, dhuhane mereka lebih baik dari sampeyan).

Hal itu tidak menyurutkan saya, justru semakin kuat keinginan saya untuk menjalankan Islam secara Rahmatan Lil ‘Alamiin, rahmat bagi seluruh alam. Aliran Biasa ini muncul karena saya sudah pada taraf puncak kekesalan pada perilaku Aliran Luar Biasa (baca: Di Luar Kebiasaan). Berbagai macam perilaku, mulai dari poligami yang tidak arif, jihad dengan bom sampai menikah dengan gadis di bawah umur yang semua itu menjadikan Islam yang sangat saya cintai sebagai kedok pembenarannya.


Mengenai masalah bom sudah terlalu banyak saya menulis hal ini. Dua hal yang saya coba untuk curhatkan kali ini “Isu Aa Gym Digugat Cerai” dan “Pernikahan Syekh Puji Dengan Gadis Di Bawah Umur.” Saya ingin membagi kerisauan hati saya mengenai dua hal ini karena telah memberikan dampak yang nyata kepada kaum muslimin pada skala yang sangat besar (sak indenging Nuswantoro alias seluruh NKRI Cak). Kegusaran, kegeraman, sakit hati, merasa dikhianati (walah-walah kayak wong patah hati Cak?) terhadap perilaku mereka sebagai saudara saya, sedulur yang hakiki yakni saudara muslim saya. Dengan pencapaian beliau-beliau yang luar biasa, mengapa harus dikotori dengan perilaku di luar kebiasaan yang mereka anggap luar biasa. Ya, mungkin ini hanyalah ajang reality show, seandainya aku menjadi Aa Gym atau Syekh Puji.

Untuk kali ini Aa Gym dulu saja, soalnya yang ingat ya baru tema tentang Aa Gym. Sosok Aa Gym mulai dikenal secara luas pada saat ia mulai mengisi acara-acara di Televisi. Pada tahun 2003, saya bertemu langsung dengan Da’i yang kala itu sangat terkenal dengan Manajemen Qolbu (MQ) itu tatkala mengisi pengajian Bulan Ramadhan di Masjid Kampus saya (UGM tercinta Cak! Jaman UGM jik murah meriah kuliah e). Ribuan massa memadati masjid yang belum sempurna bangunannya itu.

Aa Gym memang membawa fenomena baru dalam berdakwah. Selain dakwahnya ringan dan mudah dimengerti khalayak luas, ia pun dikenal sebagai pengusaha yang tanggung. Metode dakwahnya juga tidak monoton hanya dengan ceramah saja. Lebih dari itu, ia mengembangkan MQ sebagai rumah produksi yang menghasilkan jutaan keping VCD dakwah, membangun stasiun MQTV, juga Radio khusus untuk memperlancar kegiatan dakwah dan bisnisnya.

Kemunculan Aa Gym secara rutin di beberapa stasiun TV Swasta yang terkadang membawa serta istri dan anak-anaknya mengesankan ia seorang Da’i yang sangat mencintai keluarga. Faktor ini yang akhirnya merebut hati jutaan Ibu-Ibu di seantero Nusantara (termasuk Ibu saya Cak, ga pernah absen menonton ceramah Aa Gym di TV). Pencapaian yang luar biasa ini tentu sangat menggembirakan banyak kalangan. Terutama Ibu-Ibu yang biasa bergosip sekarang sudah ada tontonan yang bisa dijadikan tuntunan.

Beberapa waktu yang lalu, Aa Gym muncul di acara Kick Andy di MetroTV membeberkan kisah perjalanan hidupnya, sampai pada keputusannya untuk berpoligami (Klo belum jelas bisa buka blognya kawan yang menulis detail tentang itu Cak, tanya Mbah Google). Semua jawaban Aa Gym memang benar, tidak melanggar syari’at agama dan itu juga hak Aa Gym secara pribadi.

Namun menurut saya yang mempunyai Mahzab Biasa tadi, “Sesuatu yang benar, belum tentu baik.” Untuk itulah Islam mengatur sedemikian rupa sehingga seseorang itu harus berpikir ulang seribu kali mengenai tindakan yang akan dilakukan. Terlebih jika orang tersebut dijadikan pemimpin atau panutan bagi umat. Inilah mungkin yang tidak disadari oleh Aa Gym. Nah kembali ke rubrik kita, seandainya saya menjadi Aa Gym, saya akan memilih menyelamatkan jutaan wanita (Ibu-Ibu yang menjadi jama’ah itu lho Cak) daripada seorang wanita saja (Teh Rini yang cantik itu Cak).

Islam adalah rahmatan lil alamiin, Islam bisa tumbuh dan berkembang karena keluwesannya. Jika saya hidup di lingkungan saya yang secara etnis, orang Jawa atau Indonesia pada umumnya mempunyai stigma buruk terhadap orang dengan istri lebih dari satu. Ya, apa salahnya saya menahan diri dan saya akan mencoba menganggapnya sebagai bagian dari dakwah. Toh, dengan itu kita juga tidak mendapatkan dosa. Jika kita berpikir mengenai hukum alam, saya kok teringat wejangan Eyang Sinto Gendeng kepada muridnya Wiro Sableng pada saat menurunkan ilmu pamungkas pukulan sinar matahari dengan pusaka Kapak Maut Naga Geni 212.

Ya intinya dunia ini terdiri dari 212 saja. Dua itu adalah dunia, dan satu adalah Tuhan, Allah SWT. Dunia ini ada laki-laki ada perempuan, ada baik ada buruk, ada siang ada malam dll. Semua berpasangan dua-dua, sedangkan satu adalah Tuhan yang menciptakan alam dunia seisinya ini. Si Wiro tidak mengerti sampai Eyang Sinto Gendeng memberikan contoh dengan pertanyaan. Mata berapa? Dua, hidungmu? Satu, lubangnya dua, mulutmu? Satu, bibirnya? Dua, sampai pada (maaf) batangmu? Satu, bijinya? Dua (kok apal Cak? Yo wong tak woco kelas 4 SD kok).

Nah mungkin inilah yang tidak disadari banyak orang (masalah e orang lain ga seneng Wiro Sableng Cak! He3x). Adam hanya diturunkan bersama Hawa (bukan ditambah Hiwi, Huwu, Hewe). Jadi cuma dua saja Cak, Adam dan Hawa. Itulah fitrah manusia. Jika pada perkembangannya Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk poligami, hal ini tentu dengan alasan yang cukup kuat. Salah satunya menolong janda-janda yang lemah dan telah ditinggal suaminya. Bahkan kita semua kaum muslimin telah diingatkan, jika tidak bisa berbuat adil maka nikahilah satu saja.

Semoga saja, melalui media ini bisa terbaca oleh Aa Gym. Mohon maaf Aa, saya menulis ini justru karena saya sayang sama sampeyan. Jika memang sudah terlanjur poligami, ya berbuat adillah. Jangan sampai bercerai karena akan semakin menambah hujatan kaum anti Islam. Bagi yang belum berpoligami, tidak usah anut grubyuk gebyah uyah melu-melu, kaji dengan baik. Persetan dengan komunitas-komunitas poligami toh belum tentu surga mereka di atas surga sampeyan semua. Cintailah istri kalian wahai sedulur kabeh, dan yakinlah bahwa telah cukup Allah SWT memberikan segala kebaikan pada istri sampeyan yang satu itu.

2 comments:

  1. setuju banget, seharusnya sebagai muslim kita juga harus menjadi rahmat minimal di alam sekitar kita sendiri, lingkungan kita sendiri, apa yang tidak baik menurut mereka ya mending jangan dilakukan untuk hari depan yang lebih baik

    ReplyDelete
  2. Wah maaf Mbak, baru direspon setelah sekian lama, ya begitulah kadang manusia harus menggunakan nalar dan akal sehat dalam menentukan setiap tindakan

    ReplyDelete

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.