Tuesday, August 15, 2017

Indonesian Democracy System and Drug Dangers

Indonesia's democratic system which formerly was proud as a non-liberal and non-communist system. Pancasila democracy which is believed by the founders of Indonesia there is no gap for dictatorial leaders.

But in fact, in the old order, the first President of Indonesia, the proclaimer of Indonesian independence, Soekarno appointed himself president for life. We should agree, that's a form of dictatorship.

Then, during the New Order era, the second President of Indonesia, Soeharto seemed to apply the democratic system. But it is just a fake democracy, because he never be replaced for 32 years. For this second era, I do not need to explain, you can googling and find many references.

After the reform era, after passing 5 presidents in this era, just now, I became very worried about Indonesia's democratic system. If the new order suppresses repressively with the military, the current era is much more dire than that.




The government controls all media, NGO activists etc. to support whatever government policy. What's the difference with the new order? If their new orders (media, NGOs etc.) feel compelled to obey the government because it is repressively repressed.

But now, they willingly do it. The most obvious example, the small people in this country are suffering with the current economic conditions. However, if we look at the media, as if it did not happen. 

They always seek justification for the implementation of government policy, the growing debt of the country, the increase of electricity cost, the import of salt etc. People who try to launch criticism will be labeled as radical, anti pancasila even rebelled (makar).

Then, what's the relationship with the dangers of drugs? You see, with all the above descriptions, a competent or incompetent leader, capable or incapable, good or bad, it does not matter. Because by controlling public opinion, with mass hypnosis with media and partisan experts, all the ugly ones can look good.

I am afraid, with the massive drug business in Indonesia, one day Indonesia is dominated by drug mafia. They can infiltrate politicians and then control the country. Then they combine the new order way with the current era. 

The whole world knows what has happened in Colombia and is now happening in Mexico. First of course drug elimination, second stop all imaging and pretense, let sit together, open each other and we look for a common solution to the problems of this country.

--------------------------------------------------------------------

Sistem Demokrasi Indonesia dan Bahaya Narkoba

Sistem demokrasi Indonesia yang dahulu dibanggakan sebagai sistem non liberal dan non komunis (mungkin di tengah-tengah ACDC gitu kali ya). Demokrasi Pancasila yang diyakini para pendiri Indonesia tidak ada celah untuk lahirnya seorang diktator.

Tapi faktanya, pada orde lama, Presiden pertama Indonesia, proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup. Seharusnya kita sepakat, itu bentuk kediktatoran.

Kemudian, pada masa orde baru, Presiden kedua Indonesia, Soeharto seolah-olah menerapkan sistem demokrasi. Tapi itu hanya demokrasi semu, sebab dia tidak pernah bisa diganti selama 32 tahun. Untuk era kedua ini, tidak perlu saya jelaskan, anda bisa googling dan banyak referensinya.

Setelah era reformasi, setelah melewati 5 presiden di era ini, baru saat ini, saya menjadi sangat khawatir dengan sistem demokrasi Indonesia. Jika order baru menekan secara represif dengan militer, era saat ini jauh lebih mengerikan dari itu.

Pemerintah mengendalikan semua media, aktivis NGO dll untuk mendukung apa pun kebijakan pemerintah. Apa bedanya dengan orde baru? Kalau order baru mereka (media, NGO dll) merasa terpaksa menuruti pemerintah karena ditekan secara represif.

Tapi sekarang, mereka dengan sukarela melakukannya. Contoh paling nyata, rakyat kecil di negeri ini sangat menderita dengan kondisi perekonomian saat ini. Namun, kalau kita lihat di media, seolah hal itu tidak terjadi. 

Mereka selalu mencari pembenaran atas penerapan kebijakan pemerintah, soal hutang negara yang terus bertambah, kenaikan biaya listrik, impor garam dll. Orang-orang yang mencoba melancarkan kritik akan dicap sebagai radikal, anti pancasila bahkan memberontak (makar).

Lalu, apa hubungannya dengan bahaya narkoba? Begini, dengan semua uraian di atas, pemimpin cakap atau tidak cakap, mampu atau tidak mampu, baik atau tidak baik, itu semua tidak menjadi masalah. Sebab dengan mengendalikan opini masyarakat, dengan hipnotis masal dengan media dan pakar-pakar partisan, semua yang jelek pun bisa tampak baik.

Saya khawatir, dengan masifnya bisnis narkoba di Indonesia, suatu saat Indonesia dikuasai mafia narkoba. Mereka bisa menyusup menjadi politisi lalu mengendalikan negara ini. Lalu mereka menggabungkan cara order baru dengan era terkini. 

Seluruh dunia tahu apa yang pernah terjadi di Kolombia dan sekarang sedang terjadi di Meksiko. Mungkin saya terlalu paranoid, namun tidak ada salahnya kita waspada. Pertama tentu berantas narkoba, kedua hentikan semua pencitraan dan kepura-puraan, mari duduk bersama, saling terbuka dan kita cari solusi bersama atas masalah negara ini.

0 comments:

Post a Comment

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.