Wednesday, June 10, 2015

Kisah Inspiratif Sedekah Pedagang Nasi

Sedekah terbaik yang dilakukan seorang pedagang nasi bernama Imam Syafi’i di Surabaya yang biasanya mendapat untung hanya rata-rata Rp10 ribu setiap hari. Suatu hari, di bulan Januari 2007, setelah mendengarkan tausiyah dari seorang ustadz tentang keutamaan sedekah, dia dan istriya tergerak hati untuk menyedekahkan seluruh uang tabungan yang mereka miliki, yaitu hanya Rp1 juta.

Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membayar kontrakan rumah, rekening listrik, biAya sekolah anaknya dan lain-lainnya. Akan tetapi akhirnya dengan penuh keyakinan mereka menyedekahkan seluruh uang tersebut. Uang yang bagi mereka sangat besar dan sangat berarti karena menyangkut kepastian hidup bernaung dan sekolah anak-anaknya juga.

Satu minggu berlalu, tidak ada jawaban apa-apa terhadap sedekah yang mereka keluarkan. Dua bulan kemudian, mereka mulai goyah dengan keyakinannya tentang sedekah. Sebab uang tersebut merupakan cadangan satu-satunya yang mereka punyai untuk berbagai keperluan rumah tangganya.


Istrinya sempat ingin meminjam uang kepada tetangga, namun suaminya melarangnya. ”Kalaupun kita diusir dari rumah kontrakan gara-gara sedekah, mengapa kita tidak mengadu kepada Allah Bu?” kata Imam kepada istrinya.

Benar saja, tidak berapa lama kemudian, pedagang nasi itu ditunjuk sebagai koordinator catering korban lumpur Lapindo. Setiap hari dia mendapat order Rp30 juta. Apabila mengambil untung 5% saja, dalam dua bulan mereka sudah mendapat untung Rp90 juta.! “Sejak saat itulah kami merasa rejeki kami terus mengalir. Kami yakin ini juga berkat doa santri-santri Al Qur’an yang turut kami santuni,” kata Imam Syafi’i.




Bulan Nopember 2007, pedagang nasi itu telah menandatangani kontrak Rp20 miliar yakni untuk menyediakan katering dari Group Bakrie. Kini dalam waktu setahun mereka telah berkembang menjadi tiga perusahaan yaitu PT Diana (katering), PT Kurnia (perusahaan lata catering) dan PT Prakoso (supplier produksi katering). Usaha catering mereka bahkan ditabelkan sebagai terbesar kedua di Surabaya. Sebanyak 120 karyawan bekerja di tiga perusahaan tersebut.

Selain itu, sebagai wujud rasa syukur, tahun lalu dia menghajikan 13 anggota keluarga besarnya, termasuk anaknya. Sedekah tetap mereka jalankan karena mereka merasa bahwa kekayaan yang mereka miliki berkat dari sedekah 1 juta dulu, cadangan uang satu-satunya yang mereka miliki. Tidak mudah bagi siapapun menyedekahkan uang yang baginya sangat berarti, sangat diandalkan bagi kelangsungan hidup usaha dan tempat bernaungnya termasuk kelanjutan sekolah anak-anaknya.

Tapi itulah rezeki Imam Syafi’i, seseorang yang telah melakukan sedekah terbaik yang mereka punyai, yang telah mengangkat harkat dan martabatk keluarganya yang tadinya miskin dan kini telah berubah drastis. Rezeki itu memacu cepat perkembangan usahanya.

3 comments:

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.