Monday, August 6, 2012

Umat Islam Harus Mulai Menggagas Fiqih Kontemporer


DUA tahun berturut-turut penetapan Ramadan versi Muhammadiyah berbeda pemerintah. Hal ini merupakan buah dari perbedaan metode antara rukyat (melihat langsung) yang dianut mayoritas dengan metode hisab (perhitungan) yang dianut Muhammadiyah. Menurut Muhammadiyah, umat Islam harus mulai berpikir tentang fiqih kontemporer. Artinya ilmu fiqih yang sejalan dengan kondisi saat ini.

Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Suyuti Syamsul saat ditemui Gudang Tutorial di ruang kerjanya, kemarin. Menurut Suyuti, melihat tidak harus diartikan melihat secara langsung. Menghitung merupakan salah satu cara untuk melihat. Saat ini, umat Islam harus berpikir tidak hanya untuk Indonesia saja. Di daerah-daerah antartika pada musim panas yang waktu siangnya 20 jam, waktu malam hanya 4 jam. Sebaliknya pada musim dingin waktu siang hanya 4 jam dan waktu malam justru 20 jam. Bahkan ada beberapa hari yang malam terus menerus selama empat hari. "Lalu apakah empat hari itu kita tidak puasa? tentu tidak khan?"

Bulan--Penampakan bulan sudah menggantung begitu tinggi pada tanggal 1 Ramadan versi pemerintah. Warga Pangkalan Bun yang berbelanja di Pasar Wadai Ramadan Lapangan Tugu Istana Kuning menyesalkan pemerintah yang cenderung mengikuti pendapat mayoritas.
 
Menilik tanda-tanda alam pada dua tahun terakhir, lanjut dia, telah membuktikan bahwa penetapan menggunakan metode hisab tidak melenceng. Tahun lalu, pada tanggal 1 Syawal versi pemerintah bulan sudah menggantung tinggi dan bisa dipastikan saat itu bukan tanggal 1 Syawal. Hal yang sama terjadi pada penetapan 1 Ramadan tahun ini. Pada tanggal 1 Ramadan versi pemerintah yang jatuh pada Sabtu (21/7), bulan telah jauh di atas ufuk dan bertahan sampai waktu isya. Padahal bulan baru biasanya akan hilang dalam beberapa detik saja. "Alam itu tidak bisa dibohongi dan kita bisa lihat buktinya."

Ditemui terpisah, Wartono seorang pengunjung pasar wadai ramadan, ia menyesalkan pemerintah yang cenderung tunduk pada suara mayoritas. Seharusnya, pemerintah menggunakan semua teknologi yang ada. Melihat tidak harus dimaknai melihat langsung bulan dengan mata telanjang maupun teleskop bintang namun bisa menggunakan satelit. "Pemerintah cenderung nurut sama suara terbanyak. Salah pun kalau banyak jadi benar. Mengapa tidak menggunakan satelit kita kan punya satelit palapa, gunakan dong."

0 comments:

Post a Comment

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.