Thursday, March 8, 2012

Sadilah, Veteran yang Luput Dari Perhatian Pemerintah

SADILAH H. Masaat, 85, warga RT 02 Desa Keraya Kecamatan Kumai Kabupaten Kobar ini merupakan salah satu veteran pejuang kemerdekaan Indonesia. sampai saat ini, Ia belum mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Pemberian tunjangan kehormatan bagi veteran pejuang diatur dalam PP No. 24 Tahun 1977 tentang Pemberian Tunjangan Veteran kepada Veteran Republik Indonesia. 



Veteran Perang Kemerdekaan--Sadilah H Masaat seorang veteran perang kemerdekaan yang tidak memperoleh hak-haknya sebagai mantan pejuang. Meski begitu, Kai Dilah panggilan akrabnya sudah cukup senang melihat anak cucu terbebas dari penjajahan.

Sadilah tergabung dalam laskar angkatan muda Kumai yang terlibat dalam pertempuran di Teluk Bogam dan Sabuai. Menurut Sadilah, ia sudah beberapa kali didaftar setelah merdeka. Namun, sampai saat ini belum ada tunjangan yang ia dapatkan. Ia merupakan salah satu saksi hidup pertempuran dua hari di pesisir Kobar. Pertempuran ini menyisakan luka mendalam bagi warga kala itu karena peristiwa bumi hangus yang dilakukan Belanda terhadap Desa Teluk BOgam dan Desa Sabuai. Belanda membakar hampir semua rumah yang ada di dua desa itu termasuk rumah keluarga Sadilah.

Kala itu, dua desa ini dijadikan markas bagi laskar republik. Laskar ini terdiri dari berbagai macam suku antara lain Banjar, Jawa, Madura, dan penduduk asli. Pasukan republik dikomandani dua orang Banjar bernama Idris dan Husein Hamzah. Belanda yang bermarkas di Pangkalan Bun ingin menghancurkan kantong-kantong pertahanan para pejuang. Mereka menyerang melalui dua jalur. Dari darat, infanteri Belanda berjalan menyusuri hutan (waktu itu belum ada jalan) dan menyerang Teluk Bogam. Dari laut, serdadu Belanda menggunakan speedboat dan menyerang Teluk Bogam dan Sabuai.

Ia hampir saja menjadi korban dalam pertempuran di pantai Sabuai. saat itu, ia dan rekannya Sulaiman berpatroli di tepi pantai pasca pertempuran dua hari. Mereka tidak menyadari bahwa masih ada beberapa serdadu Belanda yang menjaga pantai. Mereka pun langsung dihujani peluru dari senapan mesin para serdadu Belanda. Sebelum diselamatkan dengan tembakan para pejuang yang mendengar rentetan tembakan tersebut. "Pokoknya peluru itu seperti hujan, beruntung kami cepat tiarap di balik gundukan pasir,"kenang Sadilah.

Sulaiman bernasib lebih baik, setelah merdeka ia langsung mendapatkan tunjangan dan sempat menjadi pegawai pemerintah. Beberapa kali rekan sesama pejuang mencoba membantunya namun sampai saat ini belum terealisasi. Ia menunjukkan kepada Gudang Tutorial beberapa dokumen yang ia miliki. Salah satunya ada Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi SK No. 046/L/Kpts/1962 yang mengakui dan mengesahkan dirinya sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Surat tersebut ditandatangani pada tanggal tanggal 25 Oktober 1962 oleh menteri yang menjabat kala itu Brigjen Sambas Atmadinata.

Selain itu, ada surat pernyataan dari Said Ali Ismail yang menerangkan bahwa Sadilah merupakan salah satu anak buahnya dari laskar angkatan muda kumai. Namun data-data Sadilah terutama data lahir menjadi penghalang. Sebab dalam data tersebut, dia lahir tahun 40-an. Menurut Sadilah, jaman itu orang jarang mengingat tanggal kelahiran. Meski begitu, banyak saksi-saksi yang sampai sekarang masih hidup. Tercatat ada dua orang teman seperjuangan yang masih hidup. Anehnya, justru yang mendapat tunjangan justru mereka yang waktu itu masih anak-anak umur dua tiga tahun kala itu. "Terakhir diurus tahun 1977, sudah difoto di Kodim tapi tidak ada tindak lanjut sampai sekarang,"kata Sadilah.










0 comments:

Post a Comment

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.