Wednesday, April 7, 2010

Ngawi Di Ambang Pilkada


Satu bulan lagi, kota kelahiran saya akan melaksanakan Pilkada. Ya, Ngawi sebuah kota yang mungkin jarang sekali orang mendengar sebelum munculnya Umar Khayam. Peristiwa kecelakaan yang menimpa artis senior Sophan Sopian mungkin menjadi salah satu faktor yang menjadikan Ngawi agak lebih dikenal (aneh yo Cak, malah terkenal goro-goro bencana wekekek). Selama ini, saya merantau sejak kuliah di Jogja kemudian bekerja beberapa tahun di Jogja, kemudian ke Jakarta dan empat tahun berikutnya berpindah-pindah tempat di Pulau Borneo.

Setelah sekian lama, ternyata tak banyak perubahan yang terjadi terutama dari greget Ngawi sebagai kota dengan posisi strategis di jalur pariwisata Jakarta - Jogja - Bali. Putra-putri terbaik Ngawi justru banyak menjadi birokrat di daerah lain (Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dll). Bisa dilihat di situs jejaring sosial Facebook. Banyak diantara mereka (kebanyakan yang saya tahu alumni SMU saya yang konon pada waktu itu adalah sekolah favorit Cak). Apa sebab mereka sampai keluar jauh melanglang buana? ya karena di Ngawi sendiri mereka tidak mendapatkan porsi yang cukup untuk berkreasi. Alumni UGM, ITB, IPB, IKJ, UNHAS, dll justru menjadi birokrat di luar daerah (aku ora termasuk Cak, aku hanya pekerja swasta pernah menjadi Wartawan, NGO, dan sekarang konsultan pemberdayaan masyarakat dan CSR di perusahaan).

Tak dapat dipungkiri dan telah menjadi rahasia umum bahwa seleksi penerimaan CPNS daerah biasanya terjadi permainan. Namun saat ini, di saat beberapa daerah di luar Jawa telah menyadari akan kekayaan sumber daya alam mereka dan sumber daya manusia yang handal sangat diperlukan. Mereka melakukan tes murni dengan menerima lulusan-lulusan terbaik dari Universitas terbaik di Indonesia. Sebagian dari mereka adalah putra-putri Ngawi.

Ini satu faktor yang membuat perbedaan yang begitu nyata antara Ngawi dengan daerah yang lain. Sumber daya manusia inilah yang bisa menjadi gudang ide bagi pengembangan sebuah daerah, misalnya Kabupaten Sragen sebagai penghasil padi organik yang terkenal sampai ke Tarakan (saat saya tinggal di sana cukup mahal harga padi organik dari Sragen) dan dari Tarakan banyak warga negeri jiran Malaysia yang juga berbelanja di kota ini.

Proses pemberdayaan masyarakat tidak berjalan, masyarakat cenderung dicekoki dengan program yang berbentuk uang (bukan money politik lho, maksudnya simpan pinjam, kredit dll) alias program Charity yang hanya giving giving dan giving. Padahal diantara orang Ngawi banyak yang bekerja di lembaga internasional seperti Oxfam GB. Saya pernah bertemu dengan seorang staff Oxfam GB yang ternyata berasal dari Ngawi. Kemungkinan besar ia juga bingung untuk melaksanakan program apa di Ngawi? karena supporting untuk itu sangat minim.

Di desa saya, saat ini sudah mengalami kebingungan secara sosiokultural. Hutan yang selama ini bisa menjadi tempat untuk makan sudah habis terbabat penjarahan. Perdebatan panjang tentu saja terjadi jika kita membicarakan siapa yang salah? namun itu tak penting. Masyarakat yang dulu jika amat terpaksa tidak punya uang, bisa menjual daun jati ke pasar, ranting jati untuk kayu bakar, dll saat ini tidak bisa lagi karena tanaman Jati masih kecil-kecil. (Terus kemarin yang bantai hutan bukan masyarakat? yo bener Cak, tapi banyak faktor, apakah Perhutani sudah melaksanakan pemberdayaan masyarakat sebagai wujud CSR-nya waktu itu? jangan berdebat masalah nggak penting yuk lanjut).

Sedangkan proses politik yang terjadi di Ngawi dari tahun ke tahun juga hampir tidak ada pendewasaan samasekali (baca tulisan saya pas sebelum ini). Orang berkampanye tanpa melakukan pemberdayaan. Padahal sudah banyak pelajaran dari daerah lain, dana kampanye 10 M balik jadi 20 M (karena diberdayakan, dibuat program, bukan dikasihkan mentahnya wehehehe...kasih kail bukan kasih ikan). Memang proses kampanye memerlukan waktu dua sampai tiga tahun namun hasilnya juga lebih terasa manfaatnya di masyarakat.

Saat ini saya sebagai putra Ngawi yang jauh di seberang Lautan mengingatkan saudara saya orang Ngawi. Jika sampai anda menerima uang dalam amplop demi satu suara anda. Yakinlah bahwa calon tersebut bukan pemimpin yang baik untuk anda. Cara kampanye seperti itu sudah kuno, dan secara teori kalau orang yang melaksanakan kampanye dengan cara paling purba berarti dia tidak mempunyai kapasitas yang cukup untuk memimpin. Carilah pemimpin yang cerdas, tidak ada salahnya juga anda melihat daftar riwayat hidupnya (curriculum vitae).

Saya ingin memberikan bocoran saja, potensi Ngawi yang bisa dikembangkan. Pertama ajak Perhutani kerjasama untuk mengelola forest floor (lahan yang berada diantara tanaman Jati) untuk ditanami jenis yang tahan naungan seperti iles-iles atau biasa disebut porang yang nama latinnya Amorphopallus oncophillus (di Nganjuk saya dengar sudah berjalan), atau empon-empon (Jahe, Kunyit, Temulawak, dll). Jika sukses panen dan hasilnya sampai ratusan ton bisa untuk memberdayakan masyarakat sekitar hutan. Buat organisasinya di tingkat desa, pilih pengurus yang baik (nek korupsi langsung digantung wae wekekek).

Untuk daerah persawahan, bisa mengembangkan padi organik kalau tidak takut saingan dengan Sragen. Bisa juga ditambahkan ikan lele (usaha mina tani). Jarak Ngawi - Jogja dekat saja, jika sudah panen tidak perlu bingung, hampir semua mahasiswanya doyan makan pecel lele sehingga jalan-jalan dipenuhi warung tenda pecel lele. Untuk daerah pegunungan, tanam kakao atau kopi dan di bawahnya sama dengan program pertama tanami lantainya tapi dengan jenis empon-empon. Oh ya, untuk empon-empon tugas Pemda untuk MoU dengan pabrik Jamu (masak kalah sama Bantul, Bupatinya saja sering MoU dengan perusahaan besar, warga suruh tanam cabe se-Bantul, harga cabe turun dibeli pakai uang Pemda. Kok nggak rugi? lha Pemda sudah MoU dengan perusahaan yang nampung cabe).

Nah, uraian di atas telah menunjukkan betapa banyaknya program cerdas yang bisa dibuat (juga menunjukkan betapa tidak adanya konsep cerdas yang berjalan di Ngawi sampai saat ini, yo semoga saja sudah ada cuma saya yang tidak tahu). Terakhir, sedulur-sedulur semua orang Ngawi, bijaklah menggunakan hak pilih sampeyan. Jangan hanya demi uang dalam amplop (pokok e nek ana duit neng amplop wis jelas calon e kuwi goblok ga gelem mikir, ga iso gawe program opo maneh mimpin! weleh-weleh sabar Cak! ojo atos-atos. Emosi aku!).

2 comments:

  1. wahahaha selamat Ngawi telah menjadi kerajaan sendiri to? aku malah nggak tahu

    ReplyDelete
  2. Jika pasangan kepala daerah yang baru terpilih, kita pantau sama-sama Mas, apakah programnya bisa seperti itu? jika tidak bisa pilkada ulang nggak ya? he3x

    ReplyDelete

Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.